HUBUNGAN POWER LEADERSHIP KEPALA RUANG DENGAN MOTIVASI DAN PERILAKU KERJA PERAWATRAWAT INAP DI RSUD TONGAS
Kata Kunci:
power leadership, kepala ruang, motivasi kerja, perilaku kerja, perawatAbstrak
Di ruang pelayanan keperawatan selalu dipimpin oleh kepala ruang yang mengelola sumber daya di unit keperawatan. Power leadership adalah kemampuan pemimpin untuk memengaruhi bawahan melalui berbagai jenis kekuatan yang dimilikinya. Dalam konteks kepala ruang dan perawat, power leadership yang efektif dapat meningkatkan motivasi, membentuk perilaku positif, dan menciptakan lingkungan kerja yang mendukung. Pemimpin harus menggunakan kekuatan ini dengan bijaksana dan seimbang untuk mencapai hasil optimal. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Power Leadership Kepala Ruang Dengan Motivasi Dan Perilaku Kerja Perawat Rawat Inap Di RSUD Tongas.
Desain penelitian ini menggunakan analitik korelasional dengan pendekatan retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat yang dinas di ruang Anggrek RSUD Tongas dengan tehnik sampling Total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner kemudian data diolah dengan menggunakan SPSS dengan menggunakan Uji Spearman Rank.
Hasil analisis penelitian menunjukkan power leadership kepala ruang sebanyak 16 orang (43%) dengan kategori sangat rendah, motivasi kerja dengan kategori sedang sebanyak 17 orang (56.7%) dan perilaku kerja perawat dengan kategori sedang sebanyak 17 orang (56.7%). Sedangkan berdasarkan hasil nilai Sig. deviation from linearity power leadership kepala ruang dengan motivasi kerja perawat sebesar 0.013 dan nilai Sig. deviation from linearity power leadership dengan perilaku kerja perawat sebesar 0.004 (lebih kecil dari 0.05) sehingga ada hubungan signifikan antara variable power leadership dengan motivasi dan perilaku kerja perawat.
Seorang kepala ruangan harus memiliki power leadership karena kepemimpinan yang efektif dan memberikan kekuasaan yang seimbang mampu meningkatkan motivasi kerja perawat serta mendorong perilaku kerja yang positif. Sebaliknya, kepemimpinan yang tidak efektif dapat menurunkan motivasi dan memicu perilaku kerja yang kurang optimal. Oleh karena itu, pengembangan gaya kepemimpinan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan keperawatan di rumah sakit.